Gempa bumi dengan kekuatan 7 pada Skala Richter (SR), telah menggoncang kawasan Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), menyebabkan puluhan terkorban dan ratusan yang lainnya mengalami kecederaan akibat malapetaka itu.
Ia adalah gegaran susulan setelah kejadian pertama berlaku pada 5 Ogos, jam 18.46 waktu Indonesia Barat.
Dengan kekuatan 6.8 SR, gempa awal itu tidak menimbulkan potensi berlakunya Tsunami.
Namun, beberapa saat kemudian Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengesan goncangan kedua yang memungkin fenomena tsunami berlaku.


Justeru, ekoran kejadian gempa kali kedua itu, telah terjadi Tsunami dengan ketinggian ombak, 10 hingga 13 sentimeter.
Laporan menyatakan, tsunami yang diawali gempa berkekuatan 7 SR telah menyentuh daratan. Pada arus laut di bawah setengah meter.
“Berdasarkan laporan BMKG telah ada tsunami dengan ketinggian tsunami yang masuk ke daratan 10 cm dan 13 cm,” kata Sutopo Purwo Nugroho, Ketua Pusat Data Informasi dan Humas BNPB dalam kenyataan yang dikeluarkan.
“Diperkirakan maksimum ketinggian tsunami 0,5 meter,” tambah Sutopo.


Sehubungan itu, Ketua BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, gempa yang terjadi itu, merupakan gempa utama atas rangkaian gempa yang terjadi sebelumnya di kawasan Lombok, NTB, berpusat di daratan.
“Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi ini memiliki kekuatan magnitudo 7. ‘Epicentre’ gempa terletak secara tepatnya pada lereng utara timur laut Gunung Rinjani,
“pada jarak 18 km arah barat laut Kabupaten Lombok Timur NTB, pada kedalaman 15 km,” kata beliau dalam siding media di pejabat BMKG, Jl Angkasa, Gunung Sahari, Kemayoran, Jakarta Pusat, Ahad malam.
Dwikorita menambah, dengan memperhatikan titik dan kedalaman gempa, disimpulkan bahawa gempa yang terjadi itu jenis gempa bumi dangkal akibat patahan ‘Flores’.
“Hasil analisis mekanisme sumber menujukkan gempa ini dibangkitakn oleh deformasi batuan dengan mekanisme gerakan naik,” katanya.


Berdasarkan titik pusat dan kekuatan gempa tersebut, kata beliau, maka disimpulkan bahawa gempa 7 SR merupakan gempa utama dari gempa sebelumnya yang terjadi pada 29 Julai 2018.
“Mengingat epicentre atau pusat gempa relatif sama pada gempa bumi yang terjadi pada tanggal 29 Juli 2018 lalu, maka BMKG menyatakan bahwa gempa bumi ini yang baru saja terjadi merupakan gempa bumi utama atau mainshock dari rangkaian gempa bumi yang terjadi sebelumnya. Jadi sebelumnya adalah gempa-gempa pendahuluan,” katanya.
Ketua Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho berkata, hingga Isnin (6/8) pukul 02.30 WIB, tercatat sudah 82 orang tewas akibat gempa 7 SR tersebut.
Sementara itu, tibuan warga lainnya mengungsi untuk mencari tempat yang lebih aman dari tempat tinggal mereka.


“Hingga Isnin dini hari pukul 02.30 WIB, tercatat 82 orang meninggal dunia akibat gempa. Ratusan orang luka-luka dan ribuan rumah mengalami kerosakan,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam rilisnya, subuh Isnin.
“Ribuan warga melarikan diri ke tempat yang aman dan gabungan penguatkuasa terus mengevakuasi dan menangani darurat akibat gempa bumi,” sambung dia.
Sutopo menambah, jumlah korban tersebut kemungkinan akan terus bertambah. “Dijangka korban terus bertambah. Jumlah kerusakan bangunan masih dilakukan pendataan,” kata Sutopo.
“Daerah yang paling terjejas adalah Kabupaten Lombok Utara, Lombok Timur dan Kota Mataram. Berdasarkan laporan dari BPBD Provinsi NTB, dari 39 orang meninggal dunia,


“korban berasal dari Kabupaten Lombok Utara 65 orang, Lombok Barat 9 orang, Lombok Tengah 2 orang, Kota Mataram 4 orang, dan Lombok Timur 2 orang. Sebagian besar korban meninggal akibat tertimpa bangunan yang roboh,” katanya.
Pasukan mencari dan menyelamat terus melakukan pencarian korban gempa 7 SR tersebut, namun akses komunikasi yang terbatas menjadikan upaya pencarian dan evakuasi sedikit terganggu.
Tenaga perubatan, air bersih dan makanan menjadi keperluan yang mendesak kepada Korban.
Ketua Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Willem Rampangilei telah tiba Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan dua helikopter juga dikirimkan ke NTB untuk proses mennangani bencana.


“Kebutuhan mendesak saat ini adalah tenaga medik, air bersih, permakanan, selimut, tikar, tenda, makanan siap saji, layanan trauma healing dan kebutuhan dasar lainnya. Kegiatan belajar mengajar di sekolah di wilayah Lombok Utara, Lombok Timur, dan Mataram akan diliburkan pada 6/8/2018 karena dikhawatirkan bangunan sekolah membahayakan siswa. Akan dilakukan pengecekan terlebih dahulu oleh petugas,” katanya.
Terbaharu sudah tercatat sebanyak 124 kali gempa susulan di Lombok
***Empat petugas media Kumpulan Aktivis Media Indipenden (KAMI) In shaa Allah akan berlepas ke Lombok pada Jumaat 6.30 pagi bagi membuat liputan dan menghantar bantuan kemanusiaan.



























