Nelson Mandela dan Apartheid

3485

Nelson Mandela (1918 – 2013) menghuraikan apartheid sebagai “kaum yang terlalu memilih siapa yang miskin dan siapa yang kaya… siapa yang hidup dalam kemewahan dan siapa yang hidup dalam kedaifan… siapa yang layak mendapatkan makanan, pakaian dan peerkhidmatan kesihatan… dan siapa yang layak hidup dan siapa yang harus mati.”

Apartheid adalah sistem diskriminasi dan pemisahan rasis yang berkuasa di Afrika Selatan dari tahun 1948 hingga akhirnya dihapuskan di awal 1990-an. Dengan mengembangkan diskriminasi terhadap orang-orang kulit hitam selama bertahun-tahun, National Party atau Parti Nasional menerapkan apartheid sebagai model untuk memisahkan pembangunan bagi berbagai ras yang berbeza, meski pada kenyataannya kebijakan tersebut hanya bertujuan untuk melindungi kepentingan orang kulit putih.

Fahaman tersebut mengklasifikasikan masyarakat sebagai orang kulit putih, Bantu (kulit hitam), kulit berwarna (ras campuran), atau Asia. Manifestasi dari tindakan itu termasuk tidak memiliki hak memilih, pemisahan kawasan permukiman dan sekolah, permit khusus untuk perjalanan dalam negeri untuk orang kulit hitam, dan pengendalian sistem keadilan yang dikuasai oleh orang kulit putih.

Sebahagian dari usahanya untuk menghapuskan amalan ‘apartheid’ ini selama beberapa dekad, PBB pada tahun 1973 mengesahkan Konvensyen Internasional tentang Penindasan dan Hukuman terhadap Apartheid, yang diiktiraf oleh 101 Negara.

Konvensyen itu menyatakan apartheid sebagai suatu pelanggaran yang dipertanggungjawabkan secara individual. Ia juga menghuraikan apartheid sebagai sebuah rangkaian “tindakan tanpa perikemanusiaan yang dilakukan untuk membangun dan mempertahankan dominasi kelompok ras tertentu terhadap kelompok ras lainnya dan secara sistematis melakukan penindasan terhadap mereka.”

Hal ini termasuk pengabaian hak terhadap kehidupan dan kemerdekaan, merosakkan keadaan kehidupan dengan tujuan untuk menghancurkan kelompok tertentu, tindakan perundangan untuk mencegah penglibatan kelompok tersebut dalam kehidupan kebangsaan, pembahagian populasi berdasarkan kelompok ras, dan eksploitasi terhadap buruh dari kelompok tertentu. Konvensyen tersebut juga menyatakan apartheid sebagai pelanggaran terhadap hak asasi manusia.

Konvensyen Geneva mewajibkan sesebuah Negara untuk memperlakukan keadilan antidiskriminasi dalam melayani orang yang sakit dan terluka, kapal yang tenggelam dan terdampar, gerilawan dan masyarakat sivil yang tertangkap dalam kekuasaan rejim tertentu ataupun situasi konflik tertentu.

Apartheid juga disebut sebagai kejahatan perang dalam sengketa internasional menurut Protokol Tambahan I Konvensyen Geneva. Protokol I mendaftarkan berbagai pelanggaran serius seperti apartheid “dan amalan-amalan tidak berperikemanusiaan dan biadab lainnya yang melakukan penindasan terhadap martabat seseorang, berdasarkan diskriminasi ras,”meskipun hal ini hanya boleh ditanggapi secara serius dalam konflik bersenjata internasional.

Pemisahan apartheid sebagai pelanggaran serius berdasarkan kempen internasional untuk menyisih Afrika Selatan dan mendapatkan sokongan dari sejumlah Negara Barat dengan alasan kes tersebut tidak berhubungan dengan konflik bersenjata. Jawatankuasa Palang Merah Internasional (ICRC) mencatat bahwa daftar pelbagai pelanggaran serius ini tidak memperluas skala pelanggaran perang secara signifikan karana banyak pelanggaran paling buruk yang dilakukan politik apartheid dapat digolongkan sebagai pelanggaran perang bila dilakukan dalam konflik bersenjata.

Namun beberapa tindakan yang mungkin sebelumnya bukan merupakan pelanggaran (walaupun mungkin tidak sesuai dengan undang-undang) dengan jelas dapat digolongkan sebagai tindakan politik apartheid—misalnya dengan memilih-milih tawanan perang atupun masyarakat sivil berdasarkan ras dan kelompoknya.

Usaha terkini yang dibuat untuk menjadikan apartheid sebagai satu kesalahan jenayah dilakukan dalam konteks rancangan peraturan mengenai pelanggaran internasional Suruhanjaya Hukum Internasional PBB tahun 1996, yang menggolongkan suatu tindakan yang disebut sebagai “diskriminasi yang terancang” sebagai sebuah pelanggaran terhadap hak asasi manusia, yang merupakan versi turunan dari politik apartheid.

Statut tentang Mahkamah Jenayah Internasional (ICC) juga menggolongkan apartheid sebagai pelanggaran terhadap hak asasi manusia, dan menghuraikan praktik tersebut sebagai tindakan biadab “yang dilakukan dalam konteks penindasan dan dominasi secara sistematis dan terancang oleh rejim sebuah kelompok ras tertentu terhadap kelompok ras lainnya… dengan tujuan mempertahankan rejim tersebut.”

Meski Konvensyen Apartheid (dan sekarang ICC) tidak didefinisikan secara geografi, negara-negara dan jarang menyebut sistem politik yang berlaku selain di Afrika Selatan sebagai sistem politik apartheid. Kelompok-kelompok ras seperti suku Kurdi, orang Tamil, Sudan Selatan atau kelompok-kelompok ras lainnya telah sejak lama mengalami perlakuan diskriminasi secara sistematis yang mungkin sesuai dengan definisi apartheid, meski mungkin praktik-praktik perangkap hukum seperti yang berlaku di Afrika Selatan tidak terjadi pada mereka.

Namun istilah ini mungkin belum dikemukakan oleh para korban maupun peguam mereka, kerana tidak diragukan lagi istilah ini memang masih dihubungkan dengan situasi politik yang terjadi di Afrika Selatan. Jadi, kemungkinan bahwa seseorang mendapat hukuman secara domestik maupun internasional akibat amaln politik apartheid dalam waktu terdekat ini kelihatannya adalah sangat kecil.

Bentuk-Bentuk Politik Apartheid

Afrika selatan, dimana angka kulit hitam adalah 7 berbanding satu dengan kulit putih, telah menjadikan diskriminasi bangsa sebagai undang-undang. Sistem apartheid membuat putih, hitam, imigran india, kulit berwarna tinggal dalam kelompok yang terpisah. Kad Pengenalan negara memperlihatkan mereka milik kelompok yang mana Pemisahan dilakukan di dalam bas, kereta api, gereja, restoran, pondok telefon, rumah sakit dan dan tanah perkuburan.

Perkahwinan campuran dilarang. Seorang berkulit hitam tidak boleh bekerja di kawasan orang kulit putih maupun bekerja di bidang intelektual atau bidang saintifik. Kerja-kerja buruh diperuntukkan untuk kulit hitam. Sedikit yang memerhatikan bahawa setengah juta kulit hitam berada di penjara! Hakim berkulit putih hanya memimpin kes-kes yang melibatkan orang berkulit hitam sahaja.

seorang gadis berkulit hitam, yang dilahirkan dirumah orang kulit putih. Menurut undang-undang Apartheid Afrika Selatan, hanya dibenarkan untuk tinggal dirumah bapanya sebagai budak, atau tinggal di kawasan kulit hitam Johannesburg. Ayahnya mesti memilih untuk pindah rumah ke sebuah tanah tempat anak perempuannya itu supaya boleh hidup bersama ibu dan bapanya, sebagaimana sepatutnya, daripada harus tunduk kepada undang-undang yang tidak berperikemanusiaan itu.

Rejim Apartheid Dibubarkan Secara Rasmi

Pada 30 Jun 1991, masa kekuasaan rejim Apartheid di Afrika Selatan secara resmi berakhir. Rejim Apartheid mulai berkuasa sejak tahun 1948 dan secara ‘opresif’ memperlakukan hukum ‘bangsa’ yang menghapuskan sebagian hak asasi warga bukan kulit putih. Rejim ini juga melakukan pembunuhan, penyiksaan, dan penahanan terhadap lawan politiknya.

Akhirnya, akibat penentangan dari dalam negeri dan tekanan dunia internasional, kekuasaan rejim ini berakhir pada tahun 1991. Pada tahun 1993 Undang-undang baru Afrika Selatan yang mengakui persamaan hak warga kulit putih dan kulit hitam disahkan. Pada tahun 1994, diadakan pilihanraya umum Presiden dan pejuang kulit hitam Nelson Mandela menang dan diangkat sebagai presiden.

Nelson Mandela meninggal dunia

Genap 20 tahun penghapusan apartheid di Afrika Selatan, Mandela meninggal dunia secara aman di rumahnya di Johannesberg selepas menderitai penyakit jangkitan paru-paru.

Mandela, 95, yang merupakan bekas presiden kulit presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan itu memimpin perlawanan terhadap dasar Apartheid dan pernah dipenjarakan selama 27 tahun.