Menurut laporan tersebut, pemerintah wilayah Rakhine secara terencana membantu sami Buddha dalam pembersihan etnik muslim Rohingya tahun lalu.
Kumpula Hak Asasi Manusia yang berpejabat di New York itu mengatakan, pasukan keselamatan Myanmar yang umumnya beragama Buddha juga terlibat dengan melucutkan senjata etnik Muslim Rohingya. Padahal, senjata tersebut adalah untuk digunakan bagi melindungi masyarakat etnik Muslim Rohingya.
Bahkan pasukan keselamatan Myanmar juga ikut bergabung dengan masyarakat Buddha ketika membunuh anak-anak dan perempuan Rohingya pada bulan Jun dan Oktober 2012.
Laporan itu pun menyebutkan pasukan keamanan memang berupaya melindungi atau mencegah etnik Rohignya keluar dari negaranya, namun melakukan sebaliknya
Pasukan keselamatan Mayanmar juga lebih sering turut serta dalam menyerang dan membunuh muslim Rohingya.
Berdasarkan laporan yang berjudul ‘All You Can Do Is Pray’, pembunuhan yang dilakukan pada bulan Oktober 2012 tersebut diselaraskan oleh pemerintah wilayah, Parti Nasional yang berteraskan masyarakat Rakhine dan sami Buddha.
Pembunuhan di kota Mrauk-U itu menyebabkan 70 orang Rohingya meninggal dunia termasuk 28 anak-anak.
Bahkan berdasarkan laporan tersebut, 5 ribu bangunan milik muslim Rohingya sudah hancur dan hanya tinggal rangka sahaja yang menyebabkan puluhan ribu muslim Rohingya terpaksa menjadi pelarian di tanah airnya sendiri.


























