Tiada petanda dan amaran mentebabkan warga daerah Banten panik dan lari bertempiaran tika Tsunami membadai kawasan pinggir pantai Selat Sunda.
Pengamal perubatan mandiri Dr Rosadi Marwan dari kampung Panimbang berkata, para penduduk keluar beramai-ramai meninggalkam rumah mencari tepat berlindung.
“Saat itu, mereka lalu dihadapan rumah saya dan saya tanya nengapa?
“Mereka ketakutan dan berlari je arah bukit, tapi saya terus tingaal di rumah,” ujarnya ketika ditemui


Sementara seorang peniaga warung makanan di pantai Panimbang Asjani Ahmad memohon kepada pemerintah Indonesia agar meletakkan alatan amaran Tsunami.
Beliau yang berada di kedainya waktu gelombang maut itu melanda berkata, bersama isteri dan anak kecilnya meranduk air sedalam hampir satu meter, untuk menyelamatkan nyawa.
“Sebelum Tsunami terdengar bunyi guruh (letusan Anak Krakatau) kemudia air mulai naik,
“Sangat panik, semua berhamburan lari ke tempat tinggi cari bukit yang bisa aman buat lari dari Tsunami gitu.


Dalam kejadian yang sama, seorang pengusaha ikan masin Abdul Kadir Abdullah, 45, telah hilang perniagaannya, ditelan ombak ganas tersebut.
“Waktu itu saya ada di pantai (premis usaha) saya lihat dan dengar ombak datang, bunyi macam jet,
“Tujuh tan garam hanyut, ilan rebus habis, semuanya hancur,” jelasnya.
Walaupun sebuah motosikal dan keretanya hanyut dan rosak akibat Tsunami Sunda, Abdul Kadir tetap bersyukur.
Seisi keluarganya dan warga kerja perusahaannya selamat dari tragedi yang mengerikan itu.


























